Djuhriansyah: Pelatih Renang Legendaris Lampung (Bagian 2)

Djuhriansyah: Pelatih Renang Legendaris Lampung
November 17, 2016
[Video] Jakarta Fin Swimming 1989
November 28, 2016

Djuhriansyah: Pelatih Renang Legendaris Lampung (Bagian 2)

“Berawal dari Otodidak Menjelma Sebagai Pelatih yang Disegani”

“Karir Djuhriansyah sebagai pelatih renang yang disegani di Indonesia tidak didapatnya dengan mudah. Djuhriansyah yang belajar berenang secara otodidak harus bekerja keras untuk bisa melatih renang secara profesional. Sepulang dari Singapura tahun 1967 usai mendampingi atletnya bertanding, Djuhriansyah pun rajin mengikuti pelatihan dan seminar mengenai kepelatihan renang.”

Kepiawaian Djuhriansyah dalam melatih renang tidak hanya disegani di Lampung. Nama Djuhriansyah bahkan melegenda di dunia renang Indonesia seperti juga Radja Nasution. Keberhasilan Djuju membangun renang di Lampung tidaklah didapat dengan mudah.

Djuju yang pandai berenang secara otodidak ini harus terus mengasah ilmu kepelatihannya agar bisa melatih secara profesional. Terkadang di saat dirinya melatih, Djuju pun tidak segan segan untuk belajar kepada pelatih yang lebih senior. Djuju juga rajin mengikuti seminar dan pelatihan soal kepelatihan renang baik di Indonesia dan luar negeri.

Djuhriansyah lahir di Kota Banjarmasin tahun 1943. Sejak kecil, Djuju sudah menyenangi olah raga renang.  Meski hanya berlatih secara otodidak, Djuju hampir setiap hari berenang. Beberapa kali Djuju juga memberanikan diri mengikuti kejuaraan tingkat daerah di Banjarmasin.

Ketika berusia remaja, Djuju sudah menjadi salah satu perenang andalan untuk Kalimantas Selatan. Sampai pada puncaknya, tahun 1963, Djuju bersama beberapa temannya dipersiapkan dalam Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang atau Games of the New Emerging Forces (Ganefo) di Jakarta. Meski akhirnya gagal tampil di ajang bergengsi sebagai tandingan Olimpiade itu, Djuju yang sudah berada di Jakarta tidak lantas patah semangat.

Djuju bahkan memutuskan tidak kembali ke kampung halamannya dan memilih menetap di Jakarta untuk memperdalam ilmu renangnya. Hidup sebatang kara di Jakarta di usianyanya yang baru 20 tahun tentu tidak mudah bagi Djuju. Untuk menyambung hidupnya Djuju pun bekerja serabutan. Di saat sulit itu, Djuju sempat bertemu dengan teman satu daerah yang mengikuti Ganefo bernama Slamet.

Usai bertanding di Ganefo, Slamet yang merupakan perenang asal Banjarmasin ini tinggal bersama seorang pegawai Kolam Renang Senayan, Jakarta. “Saya ikut tinggal sama Slamet. Karena tugasnya di kolam renang, saya jadi bebas ke kolam renang, “ cerita Djuju.

Karena tidak ada pekerjaan, Djuju pun menghabiskan waktunya setiap hari dengan berenang di kolam renang Senayan, Jakarta. Nasibnya berubah saat Djuju bertemu dengan pemilik perkumpulan renang Senayan Club, Abdul Saleh. Abdul Saleh tertarik dengan bakat Djuju dalam berenang.

Mantan pelari gawang nasional ini pun menawari pekerjaan sebagai pelatih di perkumpulan renangnya kepada Djuju. Tawaran ini awalnya membuat Djuju ragu. Meski pandai berenang, dirinya mengaku belum pernah menjadi pelatih. “ Akhirnya saya bilang iya deh pak. Saya siap,” ujar Djuju.

Djuju pun resmi melatih di perkumpulan renang Senanyan Club bersama Slamet, sahabatnya. Sebagai perantaun dan belum pernah bekerja, Djuju sempat kaget saat menerima gaji pertamanya. “ Begitu amplop saya buka jumlah uangnya cukup besar. Saya pun meminta Slamet untuk mencari rumah kontrakan,” kenang Djuju sambil tersenyum.

Selama setahun melatih di kolam renang Senanyan, Djuju banyak menghadapi kejadian. Salah satunya peristiwa beberapa pengunjung yang tenggelam saat berenang. Karena berada hampir sepanjang hari di kolam, Djuju lah yang menolong pengunjung yang tenggelam tersebut. Rupanya cerita ini sampai kepada pimpinan kolam. “Saya pun ditawari bekerja sebagai pegawai kolam renang Senayan,” kata Djuju.

Tahun 1964, Djuju kembali dipanggil oleh Buckhori Nasution yang saat itu menjabat sebagai pimpinan kolam renang Senayan yang baru. Saat itu, Buchori meminta kepada Djuju untuk bergabung dengan perkumpulan renang Tirta Taruna yang dibentuknya.

Dari sinilah talenta kepelatihan Djuju mulai bersinar. Bahkan tahun 1967, Bukhori meminta Djuju mendampingi anak-anak Titta Taruna bertanding ke Singapura. “Pulang dari situ saya memperbaiki diri. Ikut pelatihan dan penataran pelatih kesana kesini. Pokoknya saya melatih seperti sambil menyelam minum air,” tutur Djuju.

Dari hasil melatih renang, Djuju berhasil membangun sebuah rumah di kawasan Rawa Belong, Jakarta. Sejak saat itulah tangan dingin Djuju terus menghasilkan perenang-perenang yang terbilang sukses di Jakarta. (Bersambung)

“Pada tulisan mendatang akan diceritakan bagaimana Djuju membawa keluarganya merantau ke Lampung dan membangun dunia renang di daerah Sang Bumi Ruwa Jurai ini.”

fb_img_1454054216066

djuju

img_4857

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *