Djuhriansyah: Pelatih Renang Legendaris Lampung

Dua Tahun Pengurusan, Pengprov PRSI Tetapkan Tahun Prestasi
November 7, 2016
Djuhriansyah: Pelatih Renang Legendaris Lampung (Bagian 2)
November 23, 2016

Djuhriansyah: Pelatih Renang Legendaris Lampung

“Dunia renang prestasi di Lampung tidak bisa dipisahkan dari  nama Djuhriansyah. Dari tangan dingin Djuhriansyah inilah, Lampung sempat disegani di kancah nasional dalam cabang olahraga renang. Selama lebih dari dari 34 tahun, Djuhriansyah yang akrab disapa Djuju ini telah melahirkan sejumlah perenang andal yang bisa meraih medali di Pekan Olahraga Nasional (PON).”

Jam masih menunjukkan pukul 05.15 pagi. Dengan dipapah putrinya Musarofah, Djuhriansyah muncul dari salah satu pintu di Kolam Renang Pahoman, Bandar Lampung, awal Oktober lalu. Inilah kali pertamanya Djuhriansyah yang akrab disapa Djuju datang ke kolam renang saat subuh hari. Sejak mengal ami sakit sekitar tiga tahun lalu, Djuju hanya sesekali datang itupun di siang atau sore hari.

Penyakit membuat pria berusia 73 tahun ini terpaksa mengurangi aktivitasnya di kolam renang. Namun semangat Djuhriansyah mengurus renang tidak pernah surut meski sekarang usianya sudah sepuh dan sedang sakit.

Nama Djuhriansyah sangat terkenal di kalangan pegiat renang prestasi di Lampung. Nama besar Djuju bahkan terdengar hingga ke kancah nasional. Djuju dianggap sebagai bapaknya renang Lampung.

Kini, walaupun indera penglihatannya sudah banyak berkurang tetapi konsetrasinya memperhatikan atlet berlatih tetap terjaga.  Djuju amat serius menyimak seluruh sesi latihan yang dilakukan pagi itu. “Lihat anak-anak berenang ini bukan maen. Kepengen setiap hari ada di sini lagi,” kata Djuhriansyah.

Kiprah dan dedikasi Duju bagi olahraga renang di Lampung belum tergantikan oleh siapa pun hingga saat ini. Lebih dari setengah usianya telah dihabiskan Djuju untuk menempa ratusan anak-anak hingga menjadi perenang andal di daerah ini.Tidak heran, jika pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini sangat hapal setiap sudut Kolam Renang Pahoman.

Selama 34 tahun melatih, bapak empat orang anak  ini sudah melahirkan ratusan perenang. Beragam prestasi pun sudah ditorehkan anak didiknya. Di antaranya bahkan bisa menembus tingkat nasional dan internasional. Sebut saja, Mustamsikin, Musarofah, Suriansyah, Armand Pandji, hingga Lina Cahya Utami.

Kerja keras Djuju juga bisa terlacak dari torehan prestasi atletnya di olahraga multi even nasional yakni Pekan Olah Raga Nasional (PON). Pada PON XI di Jakarta tahun 1985, cabang renang dan selam yang diasuhnya berhasil mendonasikan 15 medali bagi kontingen Lampung. “Dari 15 medali itu, tiga di antaranya medali emas,” kata Djuju.

Prestasi ini terasa luar biasa karena diraih hanya dalam waktu tiga tahun masa kepelatihan Djuju di Lampung.  Bahkan, pencapaian ini belum bisa disamai atau bahkan dilampaui hingga hari ini.

Era tahun 90an, Djuju tidak berhasil membawa perenangnya mendapat medali emas di ajang PON. Walaubegitu, beberapa perenang binaannya bisa menembus persaingan di level nasional. Sebut saja Djuriana dan Armand Panjdi.

Berkat prestasinya di Kejuaraan Nasional Renang tahun 1990, Djuriana sempat mendapat beasiswa berlatih renang di Amerika Serikat selama satu tahun. Begitu juga dengan Armand Panjdi yang menjadi skuad tim renang Sea Games Indonesia. “Saat Kejurnas itu, Yana (Djuriana, red) berhasil memecahkan rekor nasional,” tutur Djuju bangga.

Sempat macet memberi prestasi dalam beberapa pelaksanaan PON tidak membuat Djuju patah arang. Pada PON XVI- 2004 di Palembang, Sumatera Selatan, Djuju kembali menorehkan prestasi hebat. Perenang asuhannya Lina Cahya Utami berhasil meraih dua medali emas di ajang itu.

Perenang spesialis gaya dada ini meraih medali emas di nomor 50 dan 100 meter putri. Berkat prestasinya ini, Lina bahkan masuk dalam tim renang Sea Games Indonesia . Sayang, nasib baik tidak menghampiri Lina yang terkena cedera saat berlatih di Amerika Serikat. (Bersambung)

“Pada tulisan mendatang akan diceritakan bagaimana Djuju memulai karir melatihnya di Jakarta hingga akhirnya memutuskan menjadi pelatih renang di Lampung.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *